17 Januari 2010

Minimnya Pertandingan Bulutangkis Di Televisi

Bulutangkis.com - Bulutangkis, olah raga yang mengandalkan kekuatan, kelenturan, keakurasian dalam mengendalikan laju shuttlecock yang terbuat dari buluangsa tetap menjadi primadona di Indonesia. Prestasi demi prestasi mendunia kerap ditorehkan oleh pemain-pemain Indonesia.

Siapa yang tak kenal Ferry Sonevile, sang maestro bulutangkis Rudi Hartono, Lim Swie King dengan King Smeshnya, Haryanto “Smes 1000 Watt” Arbi, Christian Hadinata, Ferawati Fadjrin, dan masih banyak lagi deretan pemain Indonesia yang mempunyai prestasi dunia.

Bukan hanya prestasi regional macam SEA Games yang selalu menyumbangkan pundi-pundi emas bagi Indonesia, di forum yang lebih luas lagi seperti Asian Games bahkan Olimpiade, tradisi mempersembahkan medali emas dari bulutangkis selalu terjadi. Pengantin emas Susi Susanti – Alan Budi kusuma, Ricky Subagja/ Rexi Mainaki, Taufik Hidayat membuat nama Indonesia bertengger di daftar elite dunia.

Namun prestasi spektakuler yang dibuat oleh para pemain Indonesia di ajang Internasional tidak juga membuat hati para pengusaha media elektronik alias media televisi terbuka. Jarang dilihat pertandingan lokal bahkan internasional ditayangkan di media televisi. Berbanding terbalik dengan penayangan pertandingan sepakbola yang selalu membanjiri seluruh media televisi yang ada di tanah air ini. Media televisi seakan-akan jor-joran menanyangkan pertandingan sepakbola. Dari mulai pertandingan liga yang dilangsungkan di negeri yang jauh dari Indonesia sampai pertandingan Piala Dunia selalu menjadi incaran para media televisi.

Media televisi akan menjadi sangat bangga apabila stasiun televisi mereka menjadi penyelenggara siaran resmi piala dunia sepakbola. Mereka bangga meski Indonesia tidak ada diantara jawara sepakbola. Bisa dibayangkan berapa milyar habis dibuang oleh media televisi hanya untuk menayangkan pertandingan yang ironisnya tidak diikuti oleh anak bangsa.

Ada yang mengatakan bahwa salah satu penyebab mengapa bulutangkis enggan dijamah oleh media televisi dikarenakan bulutangkis kurang menjual dibanding sepakbola. Namun hal ini hendaklah tidak dijadikan alasan bagi para pengusaha televisi untuk tidak melirik bulutangkis sebagai olahraga yang menjual. Jumlah peminat dan pecinta olahraga tepok bulu di negeri ini sangatlah besar. Apalagi jika dilihat dari segi fanatisme terhadap pemain Indonesia.

Tengoklah pada saat Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Piala Thomas dan Uber tahun lalu. Istora Senayan tak sanggung menampung penonton yang membludak. Sampai-sampai panitia harus memasang 'Giant Screen' di pelataran parkir khusus disediakan bagi para pecinta bulutangkis yang tidak kebagian masuk kedalam Istora. Sementara para calo tiket berkeliaran mencari keuntungan sesaat, melihat meluapnya penonton yang ingin menyaksikan jagoan-jagoannya bertanding.

Tapi, apa lacur. Fanatisme penonton dan pecinta bulutangkis Indonesia tidak ditangkap oleh media televisi. Media televisi tetap enggan menjamah bulutangkis. Gerakan facebookers untuk mendukung penayangan siaran bulutangkis di televisi belum mendapat realisasi. Meski Trans 7 telah memulai dengan penayangan putaran final piala Thomas dan Uber pada tahun lalu. Belakangan hanya Global TV yang sesekali memanjakan pecinta bulutangkis dengan suguhan kelas Super Series.

Entah sampai kapan media televisi akan terketuk hatinya untuk menayangkan pertandingan bulutangkis di televisi. Jika yang dijadikan acuan prestasi, jelas bulutangkis Indonesia lebih berprestasi dibanding sepakbola. Lihatlah pada laga Sea Games 2009 di Laos, tim sepakbola Indonesia tidak bisa meraih medali meski itu cuma medali perunggu sekalipun dan yang lebih menyedihkan tim Indonesia sudah harus angkat koper sebelum pertandingan semifinal dilangsungkan. Sementara tim bulutangkis Indonesia sudah mengkoleksi satu medali emas, satu perak dan masih terus akan mendulang medali di nomor perorangan. (Arief Rachman)

Catatan Kecil Hendri Kustian Indonesia Masih Ada Dan Ada Dimana-mana

Bulutangkis.com - Akhir minggu lalu (27/09) perhatian pecinta bulutangkis Indonesia tertuju pada penampilan pemain-pemain Indonesia yang tampil di Japan Open Superseries. Dahaga gelar juara superseries selepas Nova Widianto/Lilyana Natsir menjuarai Malaysia Open Superseries bulan Januari lalu akhirnya terobati pada Japan Open Superseries ini.

Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan menyiram dahaga itu dengan gelar juara ganda putra. Apresiasi juga layak disematkan pada pasangan Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama yang berhasil menembus final setelah menaklukkan juara dunia 2005, Tony Gunawan/Howard Bach (USA) di semifinal. Demikian halnya dengan Simon Santoso yang walaupun kalah dari Taufik Hidayat di semifinal tetapi sebelumnya mampu menundukkan pemain peringkat satu dunia Lee Chong Wei (MAS). Pencapaian ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih ada di tataran bulutangkis dunia walaupun tidak sehebat masa jaya-nya.

Berbicara eksistensi Indonesia maka marilah kita melirik ke sebuah turnamen kecil di daratan Eropa, Czech International 2009. Turnamen yang finalnya berlangsung pada hari yang sama dengan final Japan Open ini telah mengantarkan Indonesia merebut satu gelar juara melalui Indra Viki Okvana/Gustiani Megawati dinomor ganda campuran. Pasangan ini berhasil menundukkan seterunya Mads Conrad Petersen/Anne Skelbaek dari Denmark dengan skor 21-11, dan 21-13. Sekeping gelar juara turnamen kecil sekelas 'International Series' memang tidak menggaung beritanya tetapi yang patut dicatat bahwa mereka juara bukan dikirim oleh naungan pebulutangkis Indonesia, PBSI. Mereka bermain di Eropa dengan perjuangan sendiri dalam meniti karir sekaligus membawa nama Indonesia. Apalagi kedua pemain ini bukanlah pemain yang sudah terkenal yang menarik sponsor-sponsor besar untuk membiayai tur-nya.

Hal menarik juga dari turnamen ini adalah serbuan nama-nama Indonesia yang tetap berbendera Indonesia atau negara asal klub yang dibelanya. Dari nomor tunggal putra terdapat nama juara Asia Yunior 2001, Ardiansyah yang kandas dibabak kualifikasi. Dari babak utama ada nama Wisnu Haryo putro yang membela Italia yang bertahan sampai babak kedua. Terdapat pula nama Rizky Kurniawan yang meskipun tetap menggunakan bendera Indonesia tetapi berpasangan dengan pemain tuan rumah Ceko, Alzbeta Basova di ganda campuran dan pemain Denmark Tore Vilhemsen di sektor ganda putra.

Nama-nama pemain diatas menambah daftar pemain Indonesia yang lebih dulu berlaga baik untuk klub maupun negara Eropa. George Rimarcdi merupakan salah satu pemain Indonesia yang sukses menjadi juara nasional Swedia tahun 2006 dan Vidre Wibowo runner-up kejuaraan nasional Swedia tahun 2005. Dari negeri kincir angin, Belanda tercatat keturunan Indonesia, Dicky Palyama yang menjuarai kejurnas negeri setempat dari tahun 2005 sampai 2008. Ditambah lagi mantan bintang Indonesia, Mia Audina yang juara nasional Belanda 2006 ini telah menyumbangkan prestasi Internasional buat negara barunya termasuk medali perak Olimpiade 2004. Perancis memiliki Weny Rahmawati yang menjadi juara nasional Parancis dari sektor ganda putri tahun 2005 dan 2007 serta ganda campuran 2005. Pemain-pemain lainnya yang sempat membela negara Eropa antara lain pasangan Flandy Limpele/Eng Hian (Inggris), Darma Gunawi (Jerman), Ruben Gordown Khosadalina (Spanyol), Stenny Kusuma (Spanyol), Cynthia Tuwankota (Swiss) dan Yohannes Hogianto (Swiss). Bahkan nama terakhir menemukan tambatan hatinya dari gadis asli Swiss seperti yang termuat dalam profilnya di Majalah Jurnal Bulutangkis edisi ketiga.

Bukan hanya benua Eropa saja yang tertarik menggunakan jasa pemain Indonesia. Benua Amerika terutama Amerika Serikat bahkan meraih juara dunia melalui sabetan tangan seorang Tony Gunawan. Selain Tony, masih ada pemain lain yang membela negara paman Sam tersebut diantaranya Halim Haryanto, Chandra Kowi dan Mona Santoso. Singapura merupakan negara tetangga yang paling getol menarik pemain Indonesia. Singapura dibela pemain sekelas Ronald Susilo, Hendri Kurniawan, Hendra Saputra, Sari Shinta Mulia sampai pemain yunior, Ivannaldy Febrian. Sebenarnya pemain Indonesia yang telah memperkuat Singapura jauh lebih banyak tetapi sebagian memilih pulang kampung karena keharusan memilih kewarganegaraan yang ditetapkan pemerintah Singapura padahal sebelumnya cukup dengan status 'permanent resident'. Sementara itu mantan pemain nasional Minarti Timur memilih melanjutkan karirnya di Pilipina, sedangkan Yohan Hadikusuma masih aktif membela Hongkong.

Petualangan pemain-pemain Indonesia menunjukkan citra sebagai negara bulutangkis yang mempunyai dua sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah menunjukkan eksistensi Indonesia sebagai negara bulutangkis semakin diakui. Tetapi dapat sisi negatifnya terdapat gejala pemain-pemain yunior potensial ikut dilirik negara lain yang tentunya mengurangi bibit-bibit bintang masa depan Indonesia. Disinilah perlu kejelian dari kompenen bulutangkis untuk mencermati baik buruknya eksodus pemain untuk perkembangn bulutangkis Indonesia di masa depan.

Sebagai kalimat penutup bahwa keberhasilan Markis Kido/Hendra Setiawan menunjukkan Indonesia masih ada, sementara banyaknya eksodus pemain keluar negeri menunjukkan Indonesia ada dimana-mana. Semoga kedua peristiwa akan membawa bulutangkis Indonesia selalu berjaya.

09 April 2009

Hukuman untuk para atlit yang kalah

Pada saat penandatanganan kontrak disalah satu pasalnya disebutkan apabila pemain tidak mencapai target yang ditetapkan oleh PBSI selama mengikuti kejuaraan dua kali berturut-turut maka mereka harus bersedia melakukan 'Re-trainning' selama 1,5 bulan dan tidak akan diikutsertakan dalam kejuaraan selama re-trainning tersebut. (Dengan catatan bahwa mereka kalah denga lawan yang di bawah peringkat mereka tapi apabila mereka ditargetkan masuk perempat final tapi dalam drawingnya mereka langsung bertemu pemain-pemain unggulan yang peringkatnya lebih bagus dari mereka maka jelas mereka tidak dapat dikenakan sanksi tersebut).

Apabila berhasil menjadi juara jelas ada penghargaan berupa bonus 'uang' sesuai dengan tingkat kejuaraan yang diikuti, tapi harus diingat hanya menjadi juara yang mendapatkan bonus apabila hanya runner up or semifinalis dapet bonus 'omelan' dari pencinta bulutangkis di tanah air.

Sebagai tambahan, pemain yang lolos seleksi dalam seleknas yang baru lalu, tidak langsung masuk pelatnas Cipayung tapi digodok dulu di Magelang asrama calon taruna TNI selama 4 bulan (kalau ngga salah lho, soalnya sampai sekarang tema saya yang lolos seleknas kemarin juga masih belum tau disana berapa lama, empat atau enam bulan). Katanya sich disana buat ditingkatkan lagi rasa nasionallisme dan cinta tanah airnya. Dan tentunya untuk melatih disiplin dan stamina. (Cuma yang saya pikir tuh selama disana berarti ngga boleh gondrong atau merokok tentunya. He he he... Mungkin mereka lebih sering pegang senapan dibanding raket kali ya. Ntar kalau sudah betah boleh ngelanjutin jadi calon taruna TNI ngga ya? Dibanding jadi atlet badminton. Wakakakak)

Untuk catatan bahwa stamina Lee Chong Wei tuh lebih bagus dibandingkan dengan stamina Lin Dan tapi memang pukulan Lin Dan lebih bertenanga dibanding LCW. jadi apakah kita harus ngikutin cara berlatihnya Lin dan atau LCW nich Bung Kris? Atau ngikutin gaya berlatihnya Taufik Hidayat saja yang memiliki tehnik pukulan yang paling komplit dibanding pemain lainnya. Karena tipikal permainan dari pemain yang berbeda-beda maka tidak bisa kita seenaknya meniru gaya berlatih seseorang. (Contohnya yang mengikuti pelatihan ala militer di China bukan hanya Lin Dan tapi kok Bao Cun Lai or Chen Jin tidak dapat secermelang Lin Dan?

Seperti halnya LCW mereka juga mengikuti pelatnas di Malaysia bersama-sama tapi kenapa hanya LCW yang bisa muncul menjadi juara dari Malaysia? He he he. Jadi menurut saya sich, walaupun berlatih bersama atau mengikuti cara berlatih seseorang juara bukan berarti otomatis dia juga bisa menjadi juara karena tidak semua tipikal permainan cocok dengan gaya berlatih orang lain. Contohnya Taufik Hidayat yang selalu membawa sendiri pelatihnya karena dia merasa paling cocok dengan gaya melatih pelatihnya, mirip dengan gaya berlatih pemain tenis profesional, dan menurut saya sich ini gaya berlatih yang bagus. Karena contohnya selama dipelatnas Taufik memiliki teman berlatih yang juga dilatih oleh Mulyo (pelatih Taufik). Tapi hasilnya sangat-sanat berbeda.

Jadi menurut saya gaya berlatih yang memiliki pelatih sendiri seperti petenis profesional lebih bagus dibanding gaya berlatih bersama-sama. He he he, ini hanya pemikiran saya doang lho, yang kebetulan sependapat dengan Taufik Hidayat, mungkin karena saya mirip-miri Taufik Hidayat ya gaya mainnya. Wakakakaka (ngga boleh protes ya...).

Untuk tambahan lagi, bahwa pemain profesional Indonesia saat ini berlatih di GOR Banthong Cijantung yang sudah disewa oleh Taufik Hidayat selama satu tahun, kalau mau lihat latihan mereka bisa dateng aja kesana untuk melihat mereka latihan. Beberapa pemain pelatnas juga sering diminta untuk ikutan latihan disana, karena sebenarnya mereka kekurangan sparing partner yan seimbang.


BliPutu :
''Menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa media beberapa minggu yang lalu bahwasannya pengurus PBSI akan melakukan 'skorsing' kepada para atlit pelatnas yang gagal (kalah) dalam pertandingan.

Tadi malam saya bertemu dengan salah satu orang tua (ayah) dari seorang atlit pratama bahwa skorsing itu akan tetap di berlakukan dengan catatan 'jika si atlit tersebut (yang sudah memiliki rangking) kalah dari lawannya dengan rangking yang berada di bawah
rangking atlit tersebut'.

Sistim ini sebenarnya bagus. Karena si atlit tersebut akan dituntut untuk selalu tekun dalam berlatih dan harus memiliki semangat tempur yang tinggi. Tetapi bagaimana dengan istilah kalah dan menang dalam sebuah pertandingan adalah suatu hal yang sudah biasa terjadi.''

Hadi Samsul :
''Hukuman? Kenapa tidak pembinaan saja. Apa tidak terlalu berlebihan ya? Rasanya untuk penerapan disiplin dan mental juara bukan dengan menghukum. Jika yang kalah dihukum, bagaimana dengan yang menang? Apakah berlaku Reward and Punishment juga?''

Dedi Iswanto :
''Nimbrung ah. Untuk memacu semangat, disiplin, keinginan untuk menang terus, hukuman sah-sah aja tapi bentuknya yang konstruktif atau jadi demotivasi. Menghukum dengan tidak mengirimkan ke kejuaran berikut selama dua bulan rasanya malah tidak ada unsur pembinaannya deh.

Mungkin salah satu contoh sok tau saya, menambah porsi latihan, atau malam minggu jadi nggak libur tapi latihan, dan sebagainya. He he he.''

(Sumber: badminton-indonesia@yahoogroups.com)