PEKAN lalu di Kantor PB PBSI, Senayan, Jakarta, Sekretaris Jenderal PB PBSI MF Siregar mengatakan, materi tim Indonesia untuk tim Sudirman 2009 seharusnya lebih kuat dibandingkan dengan tim Sudirman 2007.
Tokoh bulu tangkis yang biasa disapa dengan panggilan Opung itu memang tahu benar perkembangan prestasi pemain-pemain pelatnas Cipayung.
Opung menyebut nama Maria Kristin yang bisa diandalkan di tunggal putri, seiring dengan prestasinya yang cukup konsisten sejak menjadi finalis Indonesia Terbuka Super Series.
Tak hanya medali perunggu Olimpiade Beijing yang menjadi patokan, menurut Opung, Maria Kristin kini sudah bisa bersaing dengan pemain-pemain tangguh asal China yang menjadi peta kekuatan dunia untuk sektor tunggal putri.
Melanjutkan penilaian yang diberikan Opung, nomor ganda putra dan campuran juga masih bisa diandalkan untuk selalu menyumbangkan poin dalam kejuaraan yang akan digelar di Guangzhou, China, Mei tahun 2009 itu.
Di ganda putra tentu saja ada juara dunia dan olimpiade, Markis Kido/Hendra Setiawan.
Adapun di nomor ganda campuran, Nova Widianto/Liliyana Natsir masih bisa diandalkan, selain pasangan baru Muhammad Rijal/Vita Marissa yang membuat kejutan dengan menjuarai Jepang Terbuka Super Series pada penampilan perdana mereka.
Ada Sony
Pada sektor tunggal putra modal tim Indonesia ada di tangan Sony Dwi Kuncoro yang tengah on fire setelah tersingkir di perempat final Olimpiade Beijing.
Sony sudah bisa mempraktikkan taktik tidak terpancing tipe permainan lawan, termasuk melawan pemain-pemain China di negeri mereka sendiri.
Bao Chunlai dan Chen Jin dikalahkan Sony dengan tidak mengikuti pola permainan cepat lawan untuk meraih gelar China Terbuka, setelah pekan sebelumnya menjuarai Jepang Terbuka.
Dari lima nomor, ganda putri mungkin menjadi yang terlemah bagi Indonesia saat ini. Vita/Liliyana yang saat ini berperingkat ketujuh dunia memang bisa diandalkan.
Namun, salah satu dari mereka pasti harus bermain rangkap jika harus bermain di nomor ganda campuran.
Melihat kekuatan pemain-pemain Indonesia saat ini, partai final rasanya masih bisa dicapai. Tetapi, apakah penampilan yang mereka capai saat ini bisa dipertahankan hingga Mei 2009?
Seusai menjuarai China Super Series, melalui layanan pesan singkat (SMS) Sony bertekad ingin menjadi juara pada turnamen lain dengan level yang lebih besar.
”Biasa saja rasanya. Jadi, juara ini buat saya untuk lebih mematangkan mental lagi buat jadi juara dunia dan lain-lain,” komentar Sony.
Dengan pernyataannya tersebut, hal positif dari Sony setidaknya sudah terlihat. Pemain asal Surabaya ini sudah memiliki tekad untuk tampil lebih baik karena bersaing pada turnamen lebih besar tentu harus bisa bermain dengan lebih baik pula.
Cadangan
Tak hanya mempertahankan atau meningkatkan penampilan, bertanding dalam kejuaraan sebesar Piala Sudirman memerlukan materi pemain cadangan yang kekuatannya berimbang dengan pemain utama.
Hal ini diperlukan tidak hanya untuk jaga-jaga ada pemain yang cedera, tetapi bisa dibutuhkan untuk strategi terkait formasi variasi.
Di tunggal putra, Simon Santoso menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan Taufik Hidayat untuk mendampingi Sony.
Meski pengalaman Taufik lebih banyak dalam berbagai kejuaraan beregu namun, faktor usia tak bisa dimungkiri bakalmemengaruhi penampilan. Tahun 2009 Taufik akan memasuki usia 28 tahun.
Selain itu, mempersiapkan Simon untuk menjadi anggota tim Sudirman bisa berdampak untuk jangka panjang agar pemain asal klub Tangkas Alfamart Jakarta ini semakin matang untuk bisa tampil di Olimpiade 2012.
Memilih pemain muda sebagai pelapis juga bisa dilakukan di tunggal putri. Di nomor ini ada Pia Zebadiah yang sudah punya pengalaman menjadi anggota tim Uber 2008.
Mantan pemain Susy Susanti yang saat kejuaraan Piala Uber menjadi Manajer Tim Indonesia pernah mengatakan, mental Pia cukup tangguh untuk mengemban tugas berat dalam kejuaraan beregu. Hal ini pernah ditunjukkan adik dari Kido tersebut saat menjadi penentu lolosnya Indonesia ke final.
Pilihan untuk ganda putra sebenarnya lebih banyak. Selain Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki yang Agustus lalu kembali berlatih di pelatnas Cipayung, ada pula Joko Riyadi/Hendra Aprida Gunawan dan pasangan muda Muhammad Ahsan/Bona Septano yang baru-baru ini membuat kejutan dengan menjadi finalis Jepang Terbuka.
Tugas pelatih sekarang adalah menyiapkan mereka untuk tampil di kejuaraan beregu yang atmosfernya berbeda dengan turnamen individu.
Apalagi, mendapat satu angka dari ganda putra dari setiap lawan lebih sulit dibandingkan dengan nomor lain. Persaingannya merata di antara beberapa negara, seperti Korea Selatan yang punya Jung Jae-sung/Lee Yong-dae dan Lee Jae-jin/Hwang Ji-man.
Malaysia juga memiliki dua pasangan yang sama tangguhnya, yaitu Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dan M Fairuzizuan/M Zakry. Selain itu, ada China, Denmark, dan Jepang yang juga sama-sama akan berusaha mendapat angka dari ganda putra.
Mematangkan pemain untuk tampil dalam sebuah tim juga harus dilakukan sektor ganda putri. Apalagi, nomor ini baru saja melahirkan ganda-ganda baru yang belum begitu teruji dalam kejuaraan internasional.
Prestasi terbaik Greysia Polii/Nitya Krishinda, yang sangat diharapkan bisa menjadi pelapis Vita/Liliyana, barulah mencapai babak perempat final di Jepang Terbuka.
Meski perubahan pasangan di ganda putri dilakukan untuk tujuan jangka panjang, akan lebih baik jika nomor ini juga menyumbangkan angka di tim Sudirman nanti.
Kejuaraan Piala Sudirman 2009 di Guangzhou, China, memang baru berlangsung Mei. Namun, mempersiapkan tim yang solid untuk menjadi juara dalam waktu delapan bulan bukan hal yang mudah.
10 November 2008
Liiyana N. "ATLIT JUGA BUTUH HIBURAN"
KORAN TEMPO
Atlet gaul
"Cepetan dong, gue malu nih," sebuah suara perempuan terdengar
melengking di kompleks asrama pelatnas (pelatihan atlet nasional) PBSI
(Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) Cipayung, Jakarta Timur.
Dengan mata agak disipitkan, dahi berkerut, dan bibir agak cemberut,
dia terus berjalan sambil menenteng sepatu dan tas berisi raket. Sang
fotografer seakan tak peduli akan teriakan itu dan terus saja
menjepretkan kameranya.
"Senyum, dong," celetuk sang fotografer. "Ya Allah, senyum terus kayak
orang gila," timpal perempuan berkulit putih ini sembari terus
berjalan dengan langkah tegap bak tentara sedang berbaris.
Penampilannya memang jauh dari sosok yang akrab dengan kamera. Maklum,
ia memang bukan fotomodel. Yang ini, namanya Liliyana Natsir, salah
satu pemain bulu tangkis terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.
Agustus lalu, cewek yang akrab disapa Butet ini berhasil mencatat
sejarah besar dalam dunia bulu tangkis Indonesia. Bersama seniornya,
Nova Widianto, ia berhasil menggondol gelar juara dunia ganda campuran
dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Perseorangan di Amerika Serikat,
dengan mengalahkan pasangan China Xie Zhongbo/Zang Yawen.
Sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Bagaimana tidak. Butet dan
Nova sukses membawa kembali gelar juara dunia ganda campuran setelah
25 tahun melayang dari Indonesia. "Saya nggak menyangka bisa meraih
prestasi ini," ungkap dara kelahiran Manado, 9 September 1985, ini.
Butet mengaku masih tak percaya kalau kini ia termasuk di jajaran
pemain bulu tangkis papan atas. Soalnya, cewek yang rambutnya di-
highlight ini belum genap setahun berkiprah di dunia ganda campuran.
Walaupun sebelumnya ia memang pernah menyabet juara ganda campuran dan
tunggal putri nasional.
Uang dan nama besar telah diraihnya. Tak silau dengan semua itu, gadis
yang mengaku belum punya pacar ini berusaha keras menjaga agar
penampilannya tetap prima. "Jangan sampai prestasi ini membuat saya
terlena," kata cewek tomboi itu.
Menurut dia, prestasi yang dicapai tak lepas dari perjuangan yang
dilakoni sejak kecil. Begitu lulus sekolah dasar, bungsu dari dua
bersaudara ini memutuskan untuk masuk klub di Jakarta dan berpisah
dengan keluarganya di Manado. "Setiap hari kerjaan-nya nangis melulu,
inget keluarga," ujarnya mengenang masa lalu.
Kini dia tengah mempersiapkan diri guna menghadapi Kejuaraan Indonesia
Terbuka. Walaupun berlatih keras setiap hari, Butet tak lupa
melewatkan hari liburnya dengan berjalan-jalan dan bermain biliar
bersama rekan-rekannya seasrama. "Atlet juga butuh hiburan," kata
Butet sambil tertawa keras. DA CANDRANINGRUM
koran tempo 11 September 2005
Atlet gaul
"Cepetan dong, gue malu nih," sebuah suara perempuan terdengar
melengking di kompleks asrama pelatnas (pelatihan atlet nasional) PBSI
(Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia) Cipayung, Jakarta Timur.
Dengan mata agak disipitkan, dahi berkerut, dan bibir agak cemberut,
dia terus berjalan sambil menenteng sepatu dan tas berisi raket. Sang
fotografer seakan tak peduli akan teriakan itu dan terus saja
menjepretkan kameranya.
"Senyum, dong," celetuk sang fotografer. "Ya Allah, senyum terus kayak
orang gila," timpal perempuan berkulit putih ini sembari terus
berjalan dengan langkah tegap bak tentara sedang berbaris.
Penampilannya memang jauh dari sosok yang akrab dengan kamera. Maklum,
ia memang bukan fotomodel. Yang ini, namanya Liliyana Natsir, salah
satu pemain bulu tangkis terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.
Agustus lalu, cewek yang akrab disapa Butet ini berhasil mencatat
sejarah besar dalam dunia bulu tangkis Indonesia. Bersama seniornya,
Nova Widianto, ia berhasil menggondol gelar juara dunia ganda campuran
dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Perseorangan di Amerika Serikat,
dengan mengalahkan pasangan China Xie Zhongbo/Zang Yawen.
Sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Bagaimana tidak. Butet dan
Nova sukses membawa kembali gelar juara dunia ganda campuran setelah
25 tahun melayang dari Indonesia. "Saya nggak menyangka bisa meraih
prestasi ini," ungkap dara kelahiran Manado, 9 September 1985, ini.
Butet mengaku masih tak percaya kalau kini ia termasuk di jajaran
pemain bulu tangkis papan atas. Soalnya, cewek yang rambutnya di-
highlight ini belum genap setahun berkiprah di dunia ganda campuran.
Walaupun sebelumnya ia memang pernah menyabet juara ganda campuran dan
tunggal putri nasional.
Uang dan nama besar telah diraihnya. Tak silau dengan semua itu, gadis
yang mengaku belum punya pacar ini berusaha keras menjaga agar
penampilannya tetap prima. "Jangan sampai prestasi ini membuat saya
terlena," kata cewek tomboi itu.
Menurut dia, prestasi yang dicapai tak lepas dari perjuangan yang
dilakoni sejak kecil. Begitu lulus sekolah dasar, bungsu dari dua
bersaudara ini memutuskan untuk masuk klub di Jakarta dan berpisah
dengan keluarganya di Manado. "Setiap hari kerjaan-nya nangis melulu,
inget keluarga," ujarnya mengenang masa lalu.
Kini dia tengah mempersiapkan diri guna menghadapi Kejuaraan Indonesia
Terbuka. Walaupun berlatih keras setiap hari, Butet tak lupa
melewatkan hari liburnya dengan berjalan-jalan dan bermain biliar
bersama rekan-rekannya seasrama. "Atlet juga butuh hiburan," kata
Butet sambil tertawa keras. DA CANDRANINGRUM
koran tempo 11 September 2005
Maraknya Kisah Cinta Sesama Pemain Bulu Tangkis
Senin, 19 Mei 2008,
Maraknya Kisah Cinta Sesama Pemain Bulu Tangkis
Dari Pengantin Olimpiade hingga Pasangan Juara Dunia
Witing trisna jalaran saka kulina. Demikian pepatah Jawa untuk menggambarkan kisah cinta yang tumbuh karena kebiasaan bertemu. Tidak hanya dimonopoli oleh suku Jawa, pebulu tangkis kelas dunia dari berbagai negara pun bisa terlibat dalam kisah cinta dengan dasar kulina itu.
FEMI D.-A. EFENDI, Jakarta
"I have a girlfriend also, her name is Wong Mew Choo". Demikian pengakuan tunggal pria terbaik Malaysia Lee Chong Wei yang dilansir dalam situs pribadinya. Juara Indonesia Terbuka 2007 itu terang-terangan mengakui bahwa Mew Choo adalah kekasihnya. Seperti halnya Chong Wei, Mew Choo adalah andalan Malaysia di nomor tunggal wanita.
Itu bukan kisah cinta pertama antarpebulu tangkis. Jauh sebelumnya, pada 1992, kisah cinta yang lebih dramatis terajut di Olimpiade Barcelona. Alan Budikusuma dan Susy Susanti berhasil mengawinkan emas tunggal pria dan wanita. Mereka lantas dikenal sebagai pengantin Olimpiade.
Kisah cinta itu tidak berhenti di lapangan saja. Mereka melanggengkan hubungan tersebut di altar pernikahan pada 9 Februari 1997. "Sudah terlalu lama pacaran, apa lagi kalau bukan menikah," kenang Susy.
Susy yang kini menjadi manajer Tim Uber Indonesia itu tidak menampik anggapan bahwa kisah cintanya berawal dari kerapnya pertemuan di pelatnas dengan Alan.
Di belahan dunia lain, dari Asia Timur, kisah cinta dua insan bulu tangkis terjalin di Korea Selatan (Korsel). Pelatih Timnas Korsel Ra Kyung Ming beristri Kim Dong Moon. Sebelumnya, mereka adalah pasangan di ganda campuran.
Dengan teknologi informasi yang kian maju, pebulu tangkis pelatnas sejatinya bisa memiliki pandangan luas. Jadwal ketat latihan selama enam hari dalam sepekan seharusnya tidak membuat pergaulan mereka terbatas antarsesama pemain pelatnas saja.
Namun, hal itu tidak mematikan munculnya kisah cinta lokasi. Kedekatan dan perasaan senasib membuat banyak kisah cinta terajut di karpet hijau.
Di Pelatnas PB PBSI Cipayung saja, ada beberapa hubungan spesial antarpemain. Maria Kristin Yulianti dikabarkan pernah menjalin asmara dengan Simon Santoso. Namun, keduanya telah putus kini.
Kisah cinta Maria dengan Simon masih menyisakan cerita. Hal tersebut terjadi ketika Indonesia menjadi runner-up Piala Sudirman 2007. Kala itu, Maria harus menghadapi tunggal Inggris Tracey Hallam pada babak semifinal di Glasgow, Skotlandia. Ketika itu, tim Indonesia miskin suporter.
Sewaktu Maria bertanding, Simon mulai mengetuk-ngetukkan botol kosong ke bangku. Tindakan Simon tersebut diikuti oleh pemain Indonesia lain untuk membuat suasana menjadi meriah. "Itu kisah lama," kilah Simon.
Sewaktu Tim Uber bertanding pada semifinal Kamis (15/5), Tommy Sugiarto yang menjadi tunggal keempat Tim Thomas turut hadir meski malam berikutnya harus melawan Korsel. Kabarnya, dia sedang memadu kasih dengan tunggal wanita ketiga Indonesia Pia Zebadiah. Keduanya memang enggan mengakui. Tetapi, Markis Kido, kakak kandung Pia, mengiyakan kenyataan tersebut. "Mereka memang pacaran," ungkapnya.
Kedekatan Tommy dan Pia terlihat saat Djumharbey Anwar meninggal pada Maret lalu. Tommy mendampingi Pia setelah pemakaman usai, bahkan hingga para pelayat lain meninggalkan lokasi.
Kisah cinta lain yang tak kalah menarik terjadi antara pemain ranking satu dunia Lin Dan dengan Xie Xingfang. Keduanya mencetak prestasi romantis saat bersama-sama menjadi juara dunia 2006.
Bahkan, Xingfang sangat melindungi Lin Dan. Hal tersebut terbukti saat Lin Dan dihina oleh fans Taufik Hidayat pada Asian Games 2006 Doha, Qatar. Waktu itu, Xingfang langsung membalas dengan mengatakan bahwa Taufik adalah pemain sombong. Keduanya malah kerap saling mencuri pandang dan membagi senyum saat berlatih maupun bertanding. (ang)
Maraknya Kisah Cinta Sesama Pemain Bulu Tangkis
Dari Pengantin Olimpiade hingga Pasangan Juara Dunia
Witing trisna jalaran saka kulina. Demikian pepatah Jawa untuk menggambarkan kisah cinta yang tumbuh karena kebiasaan bertemu. Tidak hanya dimonopoli oleh suku Jawa, pebulu tangkis kelas dunia dari berbagai negara pun bisa terlibat dalam kisah cinta dengan dasar kulina itu.
FEMI D.-A. EFENDI, Jakarta
"I have a girlfriend also, her name is Wong Mew Choo". Demikian pengakuan tunggal pria terbaik Malaysia Lee Chong Wei yang dilansir dalam situs pribadinya. Juara Indonesia Terbuka 2007 itu terang-terangan mengakui bahwa Mew Choo adalah kekasihnya. Seperti halnya Chong Wei, Mew Choo adalah andalan Malaysia di nomor tunggal wanita.
Itu bukan kisah cinta pertama antarpebulu tangkis. Jauh sebelumnya, pada 1992, kisah cinta yang lebih dramatis terajut di Olimpiade Barcelona. Alan Budikusuma dan Susy Susanti berhasil mengawinkan emas tunggal pria dan wanita. Mereka lantas dikenal sebagai pengantin Olimpiade.
Kisah cinta itu tidak berhenti di lapangan saja. Mereka melanggengkan hubungan tersebut di altar pernikahan pada 9 Februari 1997. "Sudah terlalu lama pacaran, apa lagi kalau bukan menikah," kenang Susy.
Susy yang kini menjadi manajer Tim Uber Indonesia itu tidak menampik anggapan bahwa kisah cintanya berawal dari kerapnya pertemuan di pelatnas dengan Alan.
Di belahan dunia lain, dari Asia Timur, kisah cinta dua insan bulu tangkis terjalin di Korea Selatan (Korsel). Pelatih Timnas Korsel Ra Kyung Ming beristri Kim Dong Moon. Sebelumnya, mereka adalah pasangan di ganda campuran.
Dengan teknologi informasi yang kian maju, pebulu tangkis pelatnas sejatinya bisa memiliki pandangan luas. Jadwal ketat latihan selama enam hari dalam sepekan seharusnya tidak membuat pergaulan mereka terbatas antarsesama pemain pelatnas saja.
Namun, hal itu tidak mematikan munculnya kisah cinta lokasi. Kedekatan dan perasaan senasib membuat banyak kisah cinta terajut di karpet hijau.
Di Pelatnas PB PBSI Cipayung saja, ada beberapa hubungan spesial antarpemain. Maria Kristin Yulianti dikabarkan pernah menjalin asmara dengan Simon Santoso. Namun, keduanya telah putus kini.
Kisah cinta Maria dengan Simon masih menyisakan cerita. Hal tersebut terjadi ketika Indonesia menjadi runner-up Piala Sudirman 2007. Kala itu, Maria harus menghadapi tunggal Inggris Tracey Hallam pada babak semifinal di Glasgow, Skotlandia. Ketika itu, tim Indonesia miskin suporter.
Sewaktu Maria bertanding, Simon mulai mengetuk-ngetukkan botol kosong ke bangku. Tindakan Simon tersebut diikuti oleh pemain Indonesia lain untuk membuat suasana menjadi meriah. "Itu kisah lama," kilah Simon.
Sewaktu Tim Uber bertanding pada semifinal Kamis (15/5), Tommy Sugiarto yang menjadi tunggal keempat Tim Thomas turut hadir meski malam berikutnya harus melawan Korsel. Kabarnya, dia sedang memadu kasih dengan tunggal wanita ketiga Indonesia Pia Zebadiah. Keduanya memang enggan mengakui. Tetapi, Markis Kido, kakak kandung Pia, mengiyakan kenyataan tersebut. "Mereka memang pacaran," ungkapnya.
Kedekatan Tommy dan Pia terlihat saat Djumharbey Anwar meninggal pada Maret lalu. Tommy mendampingi Pia setelah pemakaman usai, bahkan hingga para pelayat lain meninggalkan lokasi.
Kisah cinta lain yang tak kalah menarik terjadi antara pemain ranking satu dunia Lin Dan dengan Xie Xingfang. Keduanya mencetak prestasi romantis saat bersama-sama menjadi juara dunia 2006.
Bahkan, Xingfang sangat melindungi Lin Dan. Hal tersebut terbukti saat Lin Dan dihina oleh fans Taufik Hidayat pada Asian Games 2006 Doha, Qatar. Waktu itu, Xingfang langsung membalas dengan mengatakan bahwa Taufik adalah pemain sombong. Keduanya malah kerap saling mencuri pandang dan membagi senyum saat berlatih maupun bertanding. (ang)
Langganan:
Postingan (Atom)